Art : “Photography is more than take a picture”
Jika pada posting sebelumnya diangkat tema-tema yang serius, saat ini dipilih tema yang berawal dari masalah pribadi saya yaitu betapa susahnya mengambil sebuah foto untuk posting dlm web tercinta saya ini.
Ibarat sebuah judul dlm lagu, atau pun headline sebuah media cetak dan elektronik, foto lebih dari sekedar dokumentasi, lebih dari sebuah alat untuk menarik minat pembaca. Namun foto adalah penyampai pesan, nyawa sebuah tulisan, opinion maker, wakil dari lebih seribu tulisan. Namun tidak mudah untuk memilih sebuah foto yang representatif bagi sebuah posting. Menurut hemat saya setidaknya harus memiliki beberapa kriteria.
Kriteria tersebut adalah:
1. Tematik
Foto harus match dengan tema yang sedang atau yang akan kita kupas. Ini merupakan pekerjaan yg gampang-gampang susah, karena kriteria no 2 dan 3 di bawah ini mutlak diperlukan.
2. Natural
Penting sekali membuat foto yang betul-betul natural, hindarilah sebuah foto yang bernuansa foto KTP (dan bernuansa militer, dg kata lain simetrikal), begitu kaku, dan eye focus, dan pasti sering kali kita berfoto ria dengan sengaja menghadap ke lensa kamera. Bandingkan dengan beberapa majalah dan majalah lokal yang ada di satuan Anda masing-masing. Sering majalah lokal terjebak dengan faktor naturalisme ini.
3. Artitistik
Dengan tehnik tertentu, baik dengan mengatur focus kita bisa menghasilkan foto yang optimal, namun dengan pocket camera yg portable, otomatik ternyata sangat “miskin” kreatifitas, dibanding dengan kamera yang dilengkapi kamera dengan pengaturan fokus dan ligting secara manual. Namun jangan panik, meskipun demikian dengan sedikit sentuhan Photoshop kita juga dapat menghasilkan foto yang tak kalah menarik, dengan menambahkan pencahayaan dan tehnik blur untuk mendapatkan fokus dari bagian foto yang ingin ditonjolkan.
Contoh foto di atas dengan gabungan 3 elemen diatas.




Inti sebuah photo adalah harus dapat berbicara atau menjawab pertanyaan 5W1H.
Sebuah photo akan menarik bila sang photographe dapat membaca situasi dan merasakan momen yang tepat meskipun ketiga unsur di atas telah dipahami.
memang hasil pemotretan dapat diedit untuk artistiknya, tapi
Apakah kita akan mempertahankan original hasil pemotretan tersebut atau tidak ?
artinya apakah photo tersebut untuk dokumentasi atau untuk sebuah karya seni photografi.
Nah.. khan kembali kepada tujuan kita mengambil gambar tersebut.
Untuk menghasilkan sebuah karya photo “bermutu” :
1. Pelajari ilmunya, karena Photography sebagai ilmu bisa dipelajari
2. Rasakan seninya, karena photography sebagai seni, seperti seni-seni lainnya, sangat dipengaruhi oleh talenta atau sense of art seseorang, jadi beruntung bila Anda mempunyai jiwa seni,
3. Tingkatkan jam terbangnya, karena dalam pelaksanaannya photography diperlukan banyak keterampilan yang ditentukan oleh jam terbang.
4. Dekati obyek/sasarannya, karena semakin dekat obyek semakin besar peluang mendapatkannya.
5. Antisipasi dan waspadai “moment”nya, karena moment yang istimewa hanya datang sekejap dan tidak terulangi.
6. Tergantung nasib dan rejekinya.
Banyak photographer perang yang mengabaikan keselamatan jiwanya demi menghasilkan sebuah karya photography bermutu.
Banyak photographer fauna yang bergaul dengan binatang buas untuk mendapat moment istimewa demi photo-photo bernilai tinggi.
Memang tidak mudah dan bukan asal jeprat jepret ….
Siap, sampai sekarangpun saya belum mengambil foto yang betul-betul “bernyawa”, unsur natural, ekspresi yang wajar masih belum terpenuhi. Belum lagi momen yang pas, background dan lighting yang berlalu begitu cepat. Terima kasih atas pencerahannya, Jenderal.
Hallo Kpt Krisna? bagaimana keadaan disana? Disana tidak alih profesi jd fotograferkan? Saya sangat setuju dengan pendapat
Karena walau bagaimana dia berusaha dan belajar sampai jauh kenegara tetangga jika tidak memiliki sense of art perkembangannya tidak terlalu signifikan. Memang dapat diasah tetapi kurang sebagus talenta alamiah. Tp dihargai kok atas usahanya…. doh
Ga jd tukang foto sih, cm jd banyak tantangan utk mengabadikan kegiatan di sini, tx Tuti.
Mis gambar/foto lu bagus2 n terang, itu berkat ilmu fotografi ya??
Tapi gw seneng ngeliet orang yang cakep, cuakep, cuaaaakep di blog ini. kirim lagi gambar/foto yang “bening” ya.
Saat mata mulai terbuka
melihat dunia fana tapi nyata
apakah itu suatu pertanda
akhir sebuah dari sebuah masa…
nun jauh di sana
seorang laki-laki sedang terpana
ada keinginan besar di dada
bertemu anak isteri tercinta…
Oh di sana ternyata nyambi jadi fotografer or fotomodel ???
Wakakak… ntar kl blk ke PBHS, mbak Risanya hrs difoto tuh haha
Iya mba Risa juga minta di fotoin saya terus, hehehehe
selamat siang pak. salam kenal dari Pekanbaru Riau. kunjungi juga blog kita yo